Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murahini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Kamis, 22 November 2018

Teknik Dan Cara Menyamak Kulit Sapi Biar Infinit Dan Siap Dimanfaatkan

Cara Menyamak Kulit Sapi, dari Proses awal hingga menjadi kulit samak yang siap digunakan sebagai materi sepatu, jaket, sabuk/ikat pinggang, dompet dan lain-lain.



Tentang Mutu Kulit

Standar mutu kulit sapi mentah berair yaitu :
  • Bau : Khas kulit sapi
  • Warna dan kebersihan : Merata, segar/cerah, higienis dan tidak ada warna yang mencurigakan
  • Bulu : Tidak rontok
Ukuran kulit :
Berdasarkan berat kulit sapi dibagi dalam dua tingkatan yaitu :
  • A = berat < 20 kg
  • B = berat >= 20 kg
  • Elastisitas : cukup lentur
  • Kandungan air :
a) Kulit mentah segar, maksimum 60%
b) Kulit metah garaman, maksimum 25%

  • Cacat :
a) Mekanis : Luka cambuk, goresan/potongan dan lain-lain
b) Termis : Cap bakar atau terkena api
c) Parasit : Caplak, lalat dan lain-lain

Sumber : Dewan standardisasi Nasional. 1992. Kulit Sapi Mentah (SNI 06-2736-1992). Jakarta : LIPI

Produk-produk kulit dan Manfaat Kulit Samak
Salah satu jenis produk dari kulit samak yaitu kulit sol. Kulit sol ialah kulit yang diperoleh dari penyamakan kulit sapi dengan memakai materi penyamak nabati. Kulit sol digunakan sebagai lapisan bawah pada sepatu sehingga kulit tersebut harus keras.

Dalam pengujian kulit sol perlu dilakukan pengujian secara organoleptis, fisis dan kimiawi untuk mengetahui kualitas dari kulit sol tersebut. Kulit Sol ialah kulit jadi, matang dari materi baku kulit sapi yang disamak nabati, atau dikombinasikan krom nabati, umumnya digunakan sebagai bawahan sepatu, insole, maupun out sole. Penggunaannya dalam sepatu antara lain untuk : pengeras muka dan belakang, penguat tengah, sol luar, pengisi telapak kaki muka, pita, sol dalam, sol tengah, lapis hak.

Selain itu masih banyak kegunakan kulit samak dari kulit sapi yaitu sebagai materi baku pembuatan produk fashion, furniture dan kerajinan tangan ibarat sepatu, jaket, tas, handycraft, jok kendaraan beroda empat atau motor.

Proses produksi Industri Penyamakan Kulit
Industri penyamatan kulit ialah industri yang mengolah kulit mentah (hides atau skins) menjadi kulit jadi atau kulit tersamak (leather) dengan memakai materi penyamak. Pada proses penyamakan, semua serpihan kulit mentah yang bukan colagen saja yang sanggup mengadakan reaksi dengan zat penyamak. Kulit jadi sangat berbeda dengan kulit mentah dalam sifat organoleptis, fisis, maupun kimiawi.

Dalam Industri penyamatan kulit, ada tiga pokok tahapan penyamakan kulit, yaitu:
  • 1) Proses Pengerjaan berair (beam house).
  • 2) Proses Penyamakan (tanning).
  • 3) Penyelesaian simpulan (finishing).
Masing- masing tahapan ini terdiri dari beberapa macam proses. Setiap proses memerlukan perhiasan materi kimia dan pada umumnya memerlukan banyak air, tergantung jenis kulit mentah yang digunakan serta jenis kulit jadi yang dikehendaki. Secara prinsip, ditinjau dari materi penyamak yang digunakan, maka ada beberapa macam penyamakan yaitu:

Penyamakan Nabati
Penyamakan dengan materi penyamakan nabati yang berasal dari flora yang mengandung materi penyamak contohnya kulit akasia, sagawe, tengguli, mahoni, dan kayu quebracho, eiken, gambir, the, buah pinang, manggis, dan lainnya. Kulit jadi yang dihasilkan contohnya kulit tas koper, kulit sol, kulit pelana kuda, kulit ban mesin, kulit sabuk.

Penyamakan mineral
Penyamak dengan materi penyamak mineral, contohnya materi penyamak krom. Kulit yang dihasilkan contohnya kulit boks, kulit jaket, kulit glase, kulit suede. Disamping itu, ada pula materi penyamak aluminium yang biasanya untuk menghasilkan kulit berwarna putih (misalnya kulit shuttle cock).

Penyamakan minyak
Penyamak dengan materi penyamak yang berasal dari minyak ikan hiu atau ikan lain, biasanya disebut minyak kasar. Kulit yang dihasilkan misalnya: kulit berbulu tersamak, kulit chamois (kulit untuk lap kaca) dan lainnya. Dalam praktiknya untuk mendapatkan sifat fisis tertentu yang lebih baik, contohnya tahan gosok, tahan terhadap keringat dan basah, tahan bengkuk, biasanya dilakukan dengan cara kombinasi. Ada kalanya suatu pabrik penyamkan kulit hanya melaksanakan proses berair saja, proses penyamakan saja, proses penyelesaian simpulan atau melaksanakan 2 tahapan atau ketiga- tiganya sekaligus.

Secara garis besar tahapan proses industri penyamakan kulit sebagai berikut, yaitu

1. Tahapan Proses Pengerjaan Basah (Beam House)
Urutan proses pada tahap proses berair beserta materi kimia yang ditambahkan dan limbah yang dikeluarkan, yaitu :

a. Perendaman (Soaking).
Maksud perendaman ini ialah untuk mengembalikan sifat- sifat kulit mentah menjadi ibarat semula, lemas, lunak dan sebagainya. Kulit mentah kering sesudah ditimbang, kemudian direndam dalam 800- 1000% air yang mengandung 1 gram/ liter obat pembasah dan antiseptik, contohnya tepol, molescal, cysmolan dan sebagainya selama 1- 2 hari. Kulit dikerok pada serpihan dalam kemudian diputar dengan drum tanpa air selama 1/ 5 jam, biar serat kulit menjadi longgar sehingga gampang dimasuki air dan kulit lekas menjadi berair kembali. Pekerjaan perendaman dianggap cukup apabila kulit menjadi lemas, lunak, tidak memperlihatkan perlawanan dalam pegangan atau bila berat kulit telah menjadi 220- 250% dari berat kulit mentah kering, yang berarti kadar airnya mendekati kulit segar (60-65 %). Pada proses perendaman ini, penyebab pencemarannya ialah sisa desinfektan dan kotoran- kotoran yang berasal dari kulit.

b. Pengapuran (Liming)
Maksud proses pengapuran ialah untuk.

1) Menghilangkan epidermis dan bulu.
2) Menghilangkan kelenjar keringat dan kelenjar lemak.
3) Menghilangkan semua zat-zat yang bukan collagen yang aktif menghadapi zat-zat penyamak.

Cara mengerjakan pengapuran, kulit direndam dalam larutan yang terdiri dari 300-400% air (semua dihitung dari berat kulit sesudah direndam), 6-1 %, Kapur Tohor Ca (OH)2, 3-6%, dan Natrium Sulphida (Na2S). Perendaman ini memakan waktu selam 2-3 hari. Dalam proses pengapuran ini mengakibatkan pencemaran yaitu sisa- sisa Ca (OH)2, Na2S, zat-zat kulit yang larut, dan bulu yang terlepas.

c. Pembelahan (Splitting)
Untuk pembuatan kulit atasan dari kulit mentah yang tebal (kerbau-sapi) kulit harus ditipiskan berdasarkan tebal yang dikehendaki dengan jalan membelah kulit tersebut menjadi beberapa lembaran dan dikerjakan dengan mesin belah atau Splinting Machine. Belahan kulit yang teratas disebut serpihan rajah atau nerf, digunakan untuk kulit atasan yang terbaik. Belahan kulit dibawahnya disebut split, yang sanggup pula digunakan sebagai kulit atasan dengan diberi nerf palsu secara dicetak dengan mesin press (Emboshing machine) pada tahap penyelesaian akhir. Selain itu, kulit split juga sanggup digunakan untuk kulit sol dalam, krupuk kulit, dan lem kayu. Untuk pembuatan kulit sol, tidak dikerjakan proses pembelahan alasannya ialah dibutuhkan seluruh tebal kulit.

d. Pembuangan Kapur (Deliming)
Oleh alasannya ialah semua proses penyamakan sanggup dikatakan berlangsung dalam lingkungan asam maka kapur didalam kulit harus dibersihkan sama sekali. Kapur yang masih ketinggalan akan mengganggu proses- proses penyamakan. Misalnya :

1) Untuk kulit yang disamak nabati, kapur akan bereaksi dengan zat penyamak menjadi kalsium tannat yang berwarna gelap dan keras mengakibatkan kulit gampang pecah.

2) Untuk kulit yang akan disamak krom, bahkan kemungkinan akan mengakibatkan pengendapan Krom Hidroksida yang sangat merugikan.

Pembuangan kapur akan mempergunakan asam atau garam asam, contohnya H2SO4, HCOOH, (NH4)2SO4, Dekaltal dll.

e. Pengikisan Protein (Bating)
Proses ini memakai enzim protese untuk melanjutkan pembuangan semua zat- zat bukan collagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran antara lain:

1) Sisa- sisa akar bulu dan pigmen.
2) Sisa- sisa lemak yang tak tersabunkan.
3) Sedikit atau banyak zat- zat kulit yang tidak dibutuhkan artinya untuk kulit atasan yang lebih lemas membutuhkan waktu proses bating yang lebih lama.
4) Sisa kapur yang masih ketingglan.

f. Pengasaman (Pickling)
Proses ini dikerjakan untuk kulit samak dan krom atau kulit samak sintetis dan tidak dikerjakan untuk kulit samak nabati atau kulit samak minyak. Proses pengasaman untuk mengasamkan kulit pada pH 3- 3,5 dengan tujuan kulit sanggup menyesuaikan dengan pH materi penyamak yang akan digunakan nanti dan kulit tidak bengkak.

Selain itu pengasaman juga berkhasiat untuk:

1) Menghilangkan sisa kapur yang masih tertinggal.
2) Menghilangkan noda- noda besi yang diakibatkan oleh Na2gS, dalam pengapuran biar kulit menjadi putih bersih.

2. Tahapan Proses Penyamakan (Tanning)

Proses penyamakan dimulai dari kulit pikel untuk kulit yang akan disamakkrom dan sintan, sedangkan untuk kulit yang akan disamak nabati dan disamak minyak tidak melalui proses pickling (pengasaman).
Fungsi masing-masing serpihan pada proses penyamakan, yaitu:

a. Penyamakan
Pada tahap penyamakan ini ada beberapa cara yang sanggup dilakukan, yakni:

1) Cara penyamakan dengan materi penyamakan nabati

a) Cara Counter Current
Kulit direndam dalam kolam penyamakan yang berisis larutan ekstrak nabati + 0,50. Be selama 2 hari, kemudian kepekatan cairan penyamakan dinaikkan secara sedikit demi sedikit hingga kulit menjadi masak yaitu 3- 4 0Be untuk kulit yang tipis ibarat kulit lapis, kulit tas, kuli pakaian kuda, dan lain-lain. Sedangkan untuk kulit- kulit yang tebal ibarat kulit sol, ban mesin dan lain-lain pada kepekatan 6-8 0Be.Untuk kulit sol yang keras dan baik biasanya sesudah kulit tersamak masak dengan larutan ekstrak, penyamakan masih dilanjutkan lagi dengan cara kulit ditanam dalam babakan dan diberi larutan ekstrak pekat selama 2-5 minggu.

b) Sistem samak cepat
Penyamakan awal memakai 200% air, 3% ekstrak mimosa (Sintan) putar dalam drum selam 4 jam. Putar terus tambahkan zat peyamak hingga masak diamkan 1 malam dalam drum.

2) Cara penyamakan dengan materi penyamakan mineral

a) Menggunakan materi penyamak krom
Zat penyamak krom yang biasa digunakan ialah bentuk kromium sulphat basa. Basisitas dari garam krom dalam larutan memperlihatkan berapa banyak total velensi kroom diikat oleh hidriksil sangat penting dalam penyamakan kulit. Pada basisitas total antara 0- 33,33%, molekul krom terdispersi dalam ukuran partikel yang kecil (partikel optimun untuk penyamakan). Zat penyamak komersial yang paling banyak digunakan memunyai basisitas 33,33%. Jika zat penyamak krom ini ingin difiksasikan didalam substansi kulit, maka basisitas dari cairan krom harus dinaikkan sehingga mengakibatkan bertambah besarnya ukuran partikel zat penyamak krom. Dalam penyamakan dibutuhkan 2,5- 3,0% Cr2O3 hanya 25 %, maka dalam pemakainnya dibutuhkan 100/25 x 2,5 % Cromosol B= 10% Cromosol B. Obat ini dilautkan dengan 2-3 kali cair, dan direndam selama 1 malam. Kulit yang telah diasamkan diputar dalam drum dengan 80- 100%, air, 3-4 % garam dapur (NaCl), selama 10-15 menit kemudian materi penyamak krom dimasukkan sebagai berikut:

- 1/3 serpihan dengan basisitas 33,3 % putar selama 1 jam.
- 1/3 serpihan dengan basisitas 40-45 % putar selama 1 jam.
- 1/3 serpihan dengan basisitas 50 % putar selama 3 jam

b) Cara penyamakan dengan materi penyamak aluminium (tawas putih).

Kulit yang telah diasamkan diputar dengan:
- 40- 50 % air
- 10% tawas putih
- 1- 2% garam, putar selama 2-3 jam lu ditumpuk selama1 malam.
- Esok harinya kulit diputar lagi selama ½ – 1 jam, laludigantung dan dikeringkan pada udara yang lembabselama 2-3 hari. Kulit diregang dengan tangan atau mesin hingga cukup lemas.

3) Cara penyamakan dengan materi penyamakan minyak
Kulit yang akan dimasak minyak biasanya telah disamak pendahuluan dengan formalin. Kulit dicuci untuk menghilangkan kelebihan formalin kemudian dierah unuk mengurangi airnya, diputar dengan 20-30 % minyak ikan, selama 2-3 jam, tumpuk 1 malam selanjutnya digantung dan diangin- anginkan selama 7-10 hari.

Tanda-tanda kulit yang masak kulit bila ditarik gampang mulur dan bekas tarikan kelihatan putih. Kulit yang telah masak dicuci dengan larutan Na2CO3 1%.

b. Pengetaman (Shaving)
Kulit yang telah masak ditumpuk selama 1-2 hari kemudian diperah dengan mesin atau tangan untuk menghilangkan sebagian besar airnya, kemudian diketam dengan mesin ketam pada serpihan daging guna mengatur tebal kulit biar rata. Kulit ditimbang guna memilih jumlah khemikalia yang akan dibutuhkan untuk proses- proses selanjutnya, selanutnya dicuci dengan air mengalir ½ jam.

c. Pemucatan (Bleaching)
Hanya dikerjakan untuk kulit samak nabati dan biasanya digunakan asam- asam organik dengan tujuan:

- Menghilangkan flek- flek bsi dari mesin ketam.
- Menurunkan pH kulit yang berarti memudahkan warna kulit.

Cara mengerjakan proses pemucatan, kulit diputar dengan 150-2005 air hangat (36- 40 0C). 0,5-1,0%, asam oksalat selama ½- 1 jam.

d. Penetralan (Neutralizing)
Hanya dikerjakan untuk kulit samak krom. Kulit samak krom dilingkungannya sangat asam ( pH 3-4), maka kulit perlu dinetralkan kembali biar tidak mengganggu dalam proses selanjutnya. Penetralan biasanya memakai garam alkali contohnya NaHCO3 dan Neutriga.

Cara melaksanakan penetralan, kulit diputar dengan 200% air hangat 40-60oC. 1-2% NaHCO3 atau Neutrigan. Putar selama ½- 1 jam.Penetralan dianggap cukup bila ½- ¼ penampang kulit serpihan tengah berwarna kuning terhadap Bromo Cresol Green (BCG) indikator, sedangkan kulit serpihan tepi berwarna biru, kemudian dicuci kembali.

e. Pengecetan (Dyeing)
Tujuan pengecetan dasar ialah untuk memperlihatkan warna dasar pada kulit biar pemakaian cat tutup nantinya tidak terlalu tebal sehingga cat tidak gampang pecah.

Cat dasar yang digunakan untuk kulit ada 3 macam:
1). Cat direct, untuk kulit samak krom.
2). Cat asam, untuk kulit samak krom dan nabati.
3). Cat basa, untuk kulit samak nabati.

f. Peminyakan (Fat liguoring)
Tujuan proses peminyakan pada kulit antara lain sebagai berikut:

1) Untuk pelumas serat- serat kulit ag kulit menjadi tahan tarik dan tahan getar.
2) Menjaga serat kulit biar tidak lengket satu dengan yang lainnya.
3) Membuat kulit tahan air.

Cara mengerjakan peminyakan, kulit sesudah dicat dasar, diputar selama ½ – 1jam dengan 150%- 200% air 40- 60oC, 4-15% emulsi minyak. Ditambahkan 0,2- 0,5% asam formiat untuk memecahkan emulsi minyak. Minyak akan tertinggal dalam kulit dan airnya dibuang. Kulit ditumpuk pada kuda- kuda selama 1 malam.

g. Pelumasan (Oiling)
Pelumasan hanya dikerjakan untuk kulit sol samak nabati. Tujuan pelumasan ialah untuk menjaga biar materi penyamak tidak keluar kepermukaan kulit sebelum kulit menjadi kering, yang berakibat kulit menjadi gelap warnanya dan gampang pecah nerfnya bila ditekuk..

Cara pelumasan, kulit sol sebagian airnya diperah kemudian kulit diulas dengan campuran:
1) 1 serpihan minyak parafine.
2) 1 serpihan minyak sulfonir.
3) 3 serpihan air.

Kulit diulas tipis tetapi rata kedua permukaannya, kemudian dikeringkan.

h. Pengeringan
Kulit yang diperah airnya dengan mesin atau tangan kemudian dikeringkan. Proses ini bertujuan untuk menghentikan semua reaksi kimia didalam kulit. Kadar air pada kulit menjadi 3-14%.

i. Kelembaban
Kulit sesudah dikeringkan dibiarkan 1-3 hari pada udara biasa biar kulit menyesuaikan dengan kelembaban udara sekitarnya. Kulit kemudian dilembabkan dengan ditanam dalam serbuk kayu yang mengandung air 50- 55% selama 1 malam, kulit akan mengambil air dan menjadi berair dengan merata. Kulit kemudian dikeluarkan dan dibersihkan serbuknya.

j. Peregangan dan Pementangan
Kulit diregang dengan tangan atau mesin regang. Tujuan peregangan ini ialah untuk menarik kulit hingga mendekati batas kemulurannya dengan tujuan jikalau dibentuk barang kerajinan tidak terlalu mulur, tidak merubah bentuk ukuran. Setelah diregang hingga lemas kulit kemudian dipentang dan sesudah kering, kulit dilepas dari pentangnya, digunting dibagian tepinya hingga lubang-lubang dan keriput- keriputnya hilang.

3. Tahapan Penyelesaian Akhir (Finishing)
Penyelesaian simpulan bertujuan untuk memperindah penampilan kulit jadinya, memperkuat warna dasar kulit, mengkilapkan, menghaluskan penampakan rajah kulit serta menutup cacat-cacat atau warna cat dasar yang tidak rata.

- Analisis Ekonomi Penyamakan Kulit

Dalam Analisis Ekonomi perjuangan penyamakan kulit perlu diketahui bahwa:

• Kulit dijual dalam satuan luas (per square foot), sehingga dalam perhitungan irit kita memakai satuan tersebut

• Pengecualian untuk sole leather dijual dalam satuan berat dan kulit-kulit yang dibentuk secara khusus yang mungkin dijual perlembar atau dalam penghitungan lain ibarat halnya kulit fur, dan reptil

Komponen utama biaya eksklusif (variable cost) pada industri pengolahan kulit :

1. materi baku (kulit),

2. materi pembantu (zat kimia),

3. tenaga kerja langsung, air, listrik,

4. penanganan limbah, dan

5. biaya pemeliharaan.

Komponen Biaya tidak eksklusif (overhead cost) pada industri pengolahan kulit diantaranya :

1. biaya administrasi,

2. supervisi,

3. penjualan,

4. transportasi,

5. komunikasi,

6. sewa,

7. bunga bank, pajak, asuransi, dan

8. penyusutan gedung dan peralatan.

Biaya eksklusif (variable cost)

Variable cost ialah biaya yang eksklusif dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi. Untuk pengolahan kulit yang termasuk biaya eksklusif (variable cost) ialah sebagai berikut: Bahan baku (kulit mentah) harganya sangat berfluktuasi mencapai 50% tergantung pada ketersediaan kulit mentah dan ajakan pasar. Kulit mentah dibeli dengan satuan berat atau satuan lembar sedangkan penjualan dilakukan dalam satuan luas. Rasio luas yang dihasilkan diekspresikan dalam satuan sq ft per kg. Rasio tersebut dipengaruhi oleh jenis ternak, waktu pemotongan, dan teknik pengulitan.

- Kulit garaman dengan berat lebih dari 20 kg menghasilkan kulit jadi dengan luas 1 – 2 sq ft/kg, dengan rataan 1,5 sq. ft./kg

- Kulit garaman dengan berat antara 10 – 20 kg menghasilkan kulit jadi dengan

luas 2,0 – 2,5 sq ft/kg

- Kulit kecil (skin) dengan berat kulit garaman dibawah 4 kg menghasilkan

kulit jadi dengan luas antara 3,0 – 4,0 sq.ft/kg.

- Kulit mentah mengalami penyusutan hingga dengan 10% dari rasio tersebut, tergantung pada sumber kulit mentahnya. Biaya kulit mentah sanggup mencapai 50% atau lebih dari total biaya kulit jadi, sehingga biaya kulit mentah menjadi faktor utama yang diperhatikan oleh perusahaan pengolahan kulit.

Berkenaan dengan bantuan biaya kulit mentah yang sangat besar maka sebaiknya proses penyamakan kulit dilakukan dengan hati-hati biar kulit tidak rusak. Penanganan yang harus hati-hati terutama melaksanakan adaptasi antara tebal kulit mentah dengan ajakan ketebalan kulit jadi sehingga sanggup mengurangi hilangnya kulit alasannya ialah splitting dan shaving; meminimalisir limbahtrimming; menghindari kerusakan mesin yang sanggup menjadikan kulit bolong atau sobek. Maksimal kerusakan kulit pada proses produksi ialah 5%.

Kulit mentah dibeli secara keseluruhan/borongan, sehingga sanggup besar lengan berkuasa apabila kualitas kulit alhasil banyak yang low grade apalagi kalau hingga banyak yang reject. Kulit mentah yang low grade apabila ingin dinaikangrade-nya dibutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit yang materi bakunya memang sudah baik, oleh alasannya ialah itu apabila akan membeli materi baku harus dilakukan sortir (quality control) sebaik-baiknya.

Bahan pembantu (zat kimia) termasuk zat kimia untuk soaking, liming, tanning, peminyakan, pewarnaan, finishing dan lain-lain. Bahan kimia untuk proses berair (beam house) biasanya dihitung berdasarkan berat mengacu pada berat kulit mentah, proses tanning didasarkan pada berat bloten, proses dryingdidasarkan pada berat shaving, dan materi kimia yang digunakan pada proses finishing dihitung secara keseluruhan tidak hanya zat kimia yang menempel pada kulit tetapi dihitung secara keseluruhan termasuk dengan zat kimia yang terbuang (over spray, kelebihan mencampur dan lainnya).

Tenaga kerja eksklusif ialah tenaga kerja yang eksklusif berafiliasi dengan proses produksi kulit ibarat tenaga kerja pada serpihan beam house; proses tanning; proses drying, shaving, dan splitting; proses persiapan untukfinishing; dan proses finishing. Apabila seluruh biaya tenaga kerja eksklusif kita hitung maka komposisinya ialah sebagai berikut: beam house 12%; prosestanning 11%; proses drying, shaving, dan splitting 25%; persiapan untukfinishing 24%; dan proses finishing 28%. Pada umumnya kulit yang sanggup dihasilkan per jam kerja tenaga kerja eksklusif ialah sebagai berikut: 17 sq ft per jam untuk kulit besar, 14 sq ft per jam untuk kulit sedang, dan 10 sq ft per jam untuk kulit kecil.

Utility, termasuk didalamnya ialah air, energi (listrik, panas, dan lampu), penanganan limbah, maintenance mesin. Besarnya biaya untuk utility tergantung dari kulit yang diproses, skala pabrik, lokasi, dan kemudahan yang ada.

Biaya tidak eksklusif (overhead cost)

Overhead cost ialah biaya yang tidak eksklusif dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi biaya ini dikenal juga dengan istilah biaya tetap (fixed cost), untuk memperkirakan biaya tidak eksklusif biasanya didasarkan pada data historis perusahaan atau mengacu pada data perusahaan lain yang sejenis dengan skala perjuangan yang sama. Dalam situasi kurun perdagangan bebas, produksi sanggup sangat berfluktuasi tidak hanya jumlahnya tetapi juga jenis produk yang diproduksi, hal ini tergantung pada ketersediaan produk dan ajakan pasar alasannya ialah beberapa produk kulit bersifat seasonal. Walaupun produksi berfluktuasi tetapi biaya tetap pada umumnya relative tidak berfluktuasi. Biaya tidak eksklusif pada industri penyamakan kulit berkisar antara 10% – 20% dari total penjualan.

Kecepatan waktu roduksi dipengaruhi oleh kecepatan proses dari materi baku hingga menjadi kulit jadi (leather) dan akan besar lengan berkuasa terhadap kecepatan penjualan pula. Kecepatan waktu produksi ini besar lengan berkuasa terhadap perputaran modal (capital turnover), semakin cepat produksi semakin cepat dijual sehingga semakin cepat pula mendapatkan pembayaran. Semakin pendek waktu mengeluarkan uang untuk proses produksi dengan penerimaan uang dari konsumen maka biaya modal menjadi lebih sedikit. Kecepatan waktu produksi juga besar lengan berkuasa terhadap kuantitas produksi dan kuantitas penjualan sehingga total biaya produksi menjadi lebih efisien.

Peningkatan efisiensi produksi sanggup dilakukan dengan memakai pabrik, tenaga kerja, dan lain-lain secara maksimum. Melakukan pengiriman sesuai dengan aktivitas tanpa ada penundaan aktivitas pengiriman, mengidentifikasi dan memperbaiki bottleneck di pabrik, waktu terbuang bagi tenaga kerja alasannya ialah proses yang bekerjsama tidak memerlukan tenaga kerja (misalnya ketika menunggu putaran drum).

Harga jual, pencarian harga jual yang termahal dengan pembayaran yang cepat masih menjadi taktik banyak sekali perusahaan pengolahan kulit. Pada jaman dulu pengurangan harga dibandingkan harga produsen lain menjadi yang paling umum dilakukan biar perusahaan sanggup lebih kompetitif, tetapi mulai kini taktik penjualan ibarat itu tidak sanggup dilakukan secara langsung. Minimum harga jual yang diajukan seharusnya sanggup menutup biaya produksi ditambah dengan keuntungan yang pantas.


Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi merupakan kumpulan biaya-biaya yang menempel pada suatu produk yang diproduksi oleh suatu perusahan. Ada tiga elemen pokok biaya dalam suatu perusahaan manufaktur, yaitu: biaya materi baku (material cost), biaya tenaga kerja (labor cost), dan biaya produksi (indirect manufacturing expenses).

Biaya materi baku terdiri dari direct material cost dan indirect material cost.Direct material cost ialah biaya semua materi yang secara fisik sanggup diidentifikasi sebagai serpihan dari produk jadi dan biasanya merupakan serpihan terbesar dari material pembentuk harga pokok produksi.

Biaya tenaga kerja dibagi menjadi direct labor cost dan indirect labor cost. Direct labor cost ialah semua biaya yang menyangkut honor dan upah seluruh pekerja yang secara mudah sanggup diidentifikasi dengan kegiatan dari pengolahan materi baku menjadi produk jadi.

Indirect manufacturing expenses mencakup semua biaya produksi selain ongkos utama (direct material cost dan direct labor cost) yang bersifat menunjang atau memperlancar proses produksi dan dibebankan terhadap pabrik

Sebagai pola harga pokok produksi pada industri penyamakan kulit secara tidak eksklusif ialah menghitung total biaya eksklusif seperti:

Biaya materi baku (harga kulit mentah) : Rp. 15.000/kg

Biaya tenaga kerja eksklusif : Rp. 3.400/jam

Biaya zat kimia (keseluruhan) : Rp. 2.000/sq. ft

Biaya utility (peralatan, dll) : Rp. 500/sq. ft.

Catatan:

- Kulit besar lebih dari 20 kg sanggup menghasilkan 1,5 sq ft/kg kulit jadi. Jadi, biaya materi baku per sq ft ialah 15.000/1,5 = Rp. 10.000/sq.ft.

- Tingkat penyusutan kulit mentah ialah 10%, dan kerusakan produksi sebanyak 5%. Jadi, biaya materi baku total ialah 10.000 + (15% x 10.000) = Rp. 11.500/sq.ft.

- Tenaga kerja sanggup menghasilkan 17 sq ft/jam. Kaprikornus biaya tenaga kerjanya ialah 3.400/17 = Rp. 200/sq ft.

Jadi, Harga Pokok Produksi Kulit tersebut adalah:

HPP = Biaya materi baku + Biaya zat kimia + Biaya tenaga kerja eksklusif + Biaya utility

HPP = Rp.11.500 + Rp.2.000 + Rp.200 + Rp.500

= Rp.14.200 / sq ft

Laba Usaha

Laba perjuangan dikenal pula dengan marjin usaha, dikenal menjadi dua jenis yaitu marjin bantuan (contribution margin) atau marjin bruto (gross margin). Marjin bantuan ialah kelebihan dari penjualan atas seluruh biaya variabel. Marjin bantuan sanggup dinyatakan sebagai suatu angka yang memperlihatkan total, sebagai suatu angka perunit, sebagai rasio, dan sebagai persentase. Marjin bruto ialah suatu pengertian yang digunakan secara luas, khususnya di dalam industri eceran. Marjin bruto dirumuskan sebagai kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan (yaitu harga pokok barang dagangan yang dibentuk atau dibeli dan dijual kembali).

Perbedaan antara marjin bantuan dengan marjin bruto yaitu: kalau marjin bantuan memusatkan perhatian pada penjualan dalam kaitannya dengan seluruh sikap biaya variabel, sedangkan marjin bruto memusatkan perhatian pada penjualan dalam kaitannya dengan satu hal saja yaitu biaya perolehan barang dagangan yang telah dijual.

Sebagai contoh, harga jual kulit sapi atasan ketika ini ialah Rp. 19.000/sq ft, oleh alasannya ialah itu marjin/laba bruto penjualan kulit sapi tersebut ialah

Laba Bruto = Penjualan – harga pokok produksi

Laba Bruto = Rp. 19.000 – Rp. 14.200 = Rp. 4.800

Break Event Point (BEP)

Break event point atau titik pulang pokok ialah suatu studi mengenai kaitan antara biaya, volume, dan keuntungan dimana kondisi perusahaan memperoleh keuntungan higienis sama dengan nol. Biaya terdiri dari biaya eksklusif (variable cost) yaitu biaya per unit barang dikalikan dengan volume produksi, biaya tidak eksklusif (overhead cost / fixed cost) yaitu biaya tetap yang dikeluarkan pada periode tertentu. Laba higienis ialah kelebihan dari penjualan atas seluruhvariable cost dan fixed cost. Penjualan merupakan harga jual per unit barang dikalikan dengan volume barang terjual.

Laba higienis = Penjualan – variable cost – fixed cost

BEP ialah pada kondisi Laba higienis = 0.

Sehingga, Penjualan = Variable cost + Fixed cost

(Q X P) = (Q X C) + Fc

Dimana, Q = jumlah

P = harga jual per sq.ft.

C = harga pokok produksi per sq.ft

Fc= total biaya tetap per periode

Contoh: Mengacu pada pola sebelumnya dan apabila biaya tetap perusahaan sebesar Rp. 50.000.000,- per bulan maka biar perusahaan tidak mengalami kerugian (BEP) maka jumlah minimal kulit yag harus diproduksi adalah:

BEP  Q X P = Q X C + Fc

Q (P-C) = Fc

Q (19.000- 14.200) = 50.000.000

Q = 50.000.000/4.800

Q = 1.041,67 sq ft

Sumber : http://adifirman.wordpress.com/2011/04/25/analisis-ekonomi-usaha-penyamakan-kulit/(oleh: Jajang Gumilar, SPt.,MM, Fakultas Peternakan Unpad, 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar